Shaloomm... Selamat Datang di WebBlog kawan-kawan KPPMD Malang I ( Skadron-M1 ) - Selamat Bergabung dan Selamat Melayani. # http://skadron-m1.co.cc # kppmd malang 1 FACEBOOK GROUP "

11 September 2006

Batalyon besar !
(sekedar obrolan tanpa marah-marah)
kang Janu Marxeso, Bangkok 11 Sept 2006
di sebuah waroeng kopay tiba - tiba ada orang datang menginterupsi semua pembicaraan yang ada tapi dengan tetap meunduk, begini ucapannya....
Voltaire adalah tokoh besar ilmu pengetahuan maupun filsafat yang melihat sesuatu dari apa yang Ia lihat dan rasakan, seperti satire (sindiran) yang dilontarkannya mengapa kemenangan hanya dimiliki oleh batalyon-batalyon besar (yang punya kuasa, yang mayoritas, yang mempunyai koneksi, yang punya akses ekonomi,yang berhak menindas dan membunuh) apakah Tuhan hanya berpihak pada mereka ? .... lalu bagaimana dengan yang lemah, kecil, tertindas yang hidup hanya boleh melihat hari ini, karena esok adalah ketidak pastian, hari esok adalah penindasan dan perjuangan baru serta nasib yang tetap sama, yaitu ketidakpastian yang tidak mereka sadari atau takut untuk menyadarinya karena memang menyakitkan kalau kita sadar kalau kita ditindas...lihat bangsa kita dijajah ratusan tahun baru sadar kalau dijajah setelah begitu lama dan banyak korban. Itulah yang menjadi keprihatinan Voltaire mungkin ?
Tulisan ini tidak untuk membangkitkan amarah bagi yang merasa kecil (untuk apa marah toh tidak ada daya untuk melawan selain kita harus sadar), dan tertindas ! ya..mungkin hanya mengingatkan kalau kita kadang tertindas dan kita menikmatinya.
Sering dalam kotbah di gereja (maaf) Sang pengkotbah menyebut “kita ini golongan minoritas, yang kecil..maka kita harus hati-hati, harus toleran dan seterusnya..” sampai yang mendengar mengantuk dan tidak menyadari apa isi kotbahnya...ada nada kehatihatian dan toleransi yang dipaksakan gaya masa lalu (1967-1998) kesadaran yang menyakitkan .....hal ini seperti kita harus mengakui kalau kulit kita hitam hidung kita pesek, tinggi badan dibawah rata-rata dan harus mengakuinya didepan orang banyak yang sudah tahu tanpa diberitahu kalau wujud kita memang hitam,pesek dan kerdil ...lucunya lagi kita harus bersyukur dengan itu semua ....bersyukur terhadap sesuatu yang bisa menjadi bahan olok-olok.??? Bersyukur karena kita tidak mancung dan sebagainya adalah penyiksaan yang harus kita nikmati.....aneh khan ?!
Mari kita menengok ke zaman kenabian, seorang nabi adalah kelompok minoritas didalam kelompoknya pada awalnya. ..Kalau harus ada voting (katanya hal ini syarat syah tidaknya suatu keputusan dalam kehidupan demokrasi) untuk menentukan pendapat apakah sang nabi salah atau benar, pastilah Nuh,Abraham, Isak, Yusuf, Musa bahkan Tuhan Yesus sendiri pasti ada dipihak yang kalah ...lihat saja paling Nuh hanya mendapat suara tidak lebih dari 10 suara yang setuju Nuh membuat bahtera ataupun kalau Nuh sudah mengenal money politics nggak bakalan menang kenapa ? karena Nabi Nuh nggak mungkin membagi uang hanya untuk dilihat bahwa pendapatnya benar....tanpa itu Nuh sudah sudah yakin bahkan Ainul Yakin bahwa Ia benar karena Ia percaya kepada suatu kekuatan maha besar yang mengilhami keyakinannya.
Sering kita terjebak oleh kuantitas (quantities mainded) ...hal ini juga bukan monopoli manusia zaman sak iki, ...melihat pasukan Firaun yang buanyak dan sangat modern (pada zamannya) orang Israel di pinggir laut yang kehabisan jalan karena depannya air laut Merah mulai panik dan menghujat Musa pimpinanya (dipilihnya Musa pun tidak secara demokratis tapi njuksung : tunjuk langsung, oleh kekuatan maha kuasa ...kelihatannya yang nunjuk sama dengan yang nunjuk Nuh) dan marah marah tapi tidak sampai mbakar mobil lha wong belum ada. Ya jumlah besar...kekuasaan, gemerlapan symbol-simbol menara Babel modern, kinclongnya mobil tetangga, cantik/gantengnya pacar teman, kartu kredit unlimited. ATM (ambil thuwidmu mendiri) yang nggak ada habisnya, akses kesegala arah birokrasi dengan mudahnya karena anak pejabat, perguruan tinggi (nama ini mungkin sesuai dengan biayanya yang tinggi) ternama wah wah wah membuat kita harus mengakui kalau kita ini kecil miskin hitam,pesek dan cebol dan tidak berdaya menghadapi batalyon-batalyon besar simbol kominitas sosial yang hanya memandang materi dan jumlah besar sebagai patokan.....bahayanya begitu nyata.... sangking putus asa menghadapi itu semua ....kita menghibur diri dengan seolah-olah menikmati kekurangan kita ..hal ini sering dipraktekan oleh pengemis yang tangannya puntung ...ia bersyukur tangannya puntung karena dengan begitu ia syah untuk mengemis dan ndak perlu kerja ngoyo-ngoyo lagi walaupun kalau ia mau ia masih rosá-rosá (kuat) tanpa minum suplemen yang Mbah Marijan iklankan dan tidak pernah ia minum itu.
Keterbelengguan terhadap kata “tidak mungkin kita hadapi”...”kita tidak punya apa-apa untuk melawan” ..”tidak ada biaya sekolah” ..”orang tua kekurangan” “ah pekerjaan itu tidak keren” harus dihapus dari kamus pemikiran kita kalau kita mau kedepan lebih baik, kita harus melawan keinginan untuk menikmati penindasan ini, untuk maju tidak harus sekolah...tapi untuk maju pasti perlu belajar ..dan belajar tidak hanya ada disekolahan saja yang biayanya lebih besar dari pada gaji kita kalau sudah lulus, belajar dari tukang bakso,tukang jamu, dan bataliyon besar tidak ujuk- ujuk menjadi besar ...tapi dari regu ...kompi dan seterusnya sehingga menjadi bataliyon yang kuat dengan senjata kemauan untuk maju kedepan, dan kalau boleh mengingatkan komandan yang gagal menjalankan batalyon yang kuat itu lupa mohon petunjuk kepada yang maha kuasa (yang telah meyakinkan Nuh ,Musa) sebelum berangkat dan hanya mengandalkan kekuatan batalyonnya saja ...seandainya kita sudah membangun kekuatan dan menjadi kuat, kita mesti ingat kalau ada teman kita yang masih berjuang.....yang membutuhkan kekuatan kita....
Kopi sudah tinggal seperempat gelas ......tapi masih ada pertanyaan dari Pak dhe tukang kopay yang dari tadi mendengar pembicaraan ini....”sudahkah gereja siap dengan semua ini......” sruput ....kopay habis tanpa menjawab semua melangkah pulang.
interuptor di Waroeng kopay itu :
Janu Marxeso
kang Janu ato kang Didid Janu, dulu adalah aktifis dan pembela kaum muda Gereja (seperti kita-kita). Motor Pemuda dan Mahasiswa Jemaat Kepanjen ini adalah orang yang punya motivasi tinggi, suka membaca dan berdiskusi tanpa ketinggalan dengan gayanya yang lucu. Semenjak tinggal dan menetap di Bangkok, Thailand dia tetap memantau kegiatan - kegiatan pemuda GKJW (saking cinta nya terhadap pemuda GKJW ), salah satunya lewat web-blog kita ini. Pengajar Sejarah dan Agama di sekolah indonesia - bangkok ini suka dengan hal - hal petualang, camping, hiking & sejenis. Suatu saat jika pulang ke Indonesia, dia sanggup untuk jadi guru kita. Kalo - kalo ada yang ingin berkenalan http://sib-bangkok.org/cms/index.php?id=120&type=content